Bulan puasa kemarin saya sempat cerita soal anti aging dan janji mau cerita kelanjutannya, ya? hehehe... duh maafkan, baru cerita lagi sekarang. Akhirnya saya kesampaian juga buat menjalani tes alergi ini. Sok sibuk, ya? :D
Oke, jadi seperti yang sempat saya bilang di sini, kalau saya lagi menjalani terapi anti aging. Please note ya, bukan saya pengen sok bergaya sosialita yang mukanya kinclong bingits dan menghabiskan ratusan juta buat perawatan tubuh (keukeupin dompet dulu ah). Anti aging yang nyerempet kecantikan itu emang bener dan ternyata cuma sebagian kecil. Anti aging teratasi, efeknya kelihatan di kondisi kulit yang sehat. No wonder deh yang makannya apik itu biasanya wajah dan kulitnya bagus, halus mulus bikin sirik. Tuh kan, no pain, no gain.
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
Jerawat, flek dan lingkar mata hitam yang bandel buat ngibrit ternyata indikasi ada yang salah dengan tubuh saya, Iya, saya sudah berdamai soal itu. Saya sudah berusaha memperbaiki gaya hidup saya, menjalani diet FC meski masih terbilang abal-abal karena belum 100% full. Tapi reaksinya lumayan kerasa, nah bayangin kalau saya bisa konsisten, ya?
Lanjut.
Allah ga akan kasih ujian tanpa solusinya,ya? Jadi saya bismillah aja jalani terapi ini. Buat tes Bio E seperti yang disarankan oeh dokter David ini ternyata ratenya lumayan, Rp.250.0000. Duh lumayan banget buat belanja buah-buahan yang sekarang jadi kegemaran saya hehehe... Tapi, tapiiii ini jauh lebih murah daripada tes lain. Di tempat lain ada yang ratenya kurang lebih Rp. 700.000, atau ke luar negeri sono dengan mengirim sample yang membuat kita merogoh kocek lebih dalam, sekitaran Rp.3000.000an. Jadi ini kurang dari 10%nya. Anggap aja investasi, bukan biaya, biar saya lebih alert dengan kesehatan.
Bio E Banyak Cabangnya
Klinik Bio E bukan cuma ada di Bandung tapi juga ada di kota-kota lain. Klinik ini juga ada di Jakarta, Bekasi, Cikampek, Bogor, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Makasar, Balikpapan, Jambi dan Medan. Kalau yang di Bandung lokasinya ada di jalan Kresna 12. patokannya bisa masuk dari jalan Kesatriaan (SMP 1 Bandung) yang belok kejalan Bima, enggak jauh setelah Sekolah Bina Bakti melipir deh ke kanan. Atau kalau dari Istana Plaza bisa juga ambil jalan dari sebelah kanan kedainya Bubur Ayam H. Amid, dari situ tanyain deh jalan Kresna. Klinik ini enggak jauh dari SD Kresna, sekitar 100 meteran lah.
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
Klinik Bio E Bandung
Bikin Janji Dulu
Saran saya kalau mau tes alergi di sana bikin janji dulu, jadi begitu datang langsung dilayani.Enggak perlu pengantar kok buat datang dari sini. Cuma saran saya hasil tes Bio-E ini dibawa ke dokter yang ngerti soal alergi dan sebagainya biar dapat tindakan yang lebih serius dan pas. Saya sendiri bakalan bawa hasil tes alergi ini buat lanjutin terapi anti aging di DF Clinic. :) Kalau mau tahu alamat lengkap dan nomor kontaknya, bisa kepoin di webnya, di bio-e.net.
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
brosur Bio E
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
brosur Bio E
Tesnya Ga Bikin Parno
Enggak perlu lama buat menunggu hasilnya. Tesnya juga enggak mengerikan. Waktu diperiksa, kita cuma duduk aja dan diminta melepaskan logam yang ada di tubuh kita, misalnya kalung/perhiasan dan menjauhkan handphone. Alatnya mirip stetoskop yang punya tangkai. Sementara satu tangan doter yang memeriksa akan memegang tangkainya,, tangan lainnya akan memegang semacam pen yang disentuhkan ke kotak seukuran buku bigboss berisi panel-panel dari bahan seperti kaca atau mika. Nantinya dari panel yang disentuh ini alatnya akan bereaksi. Dia akan maju mundur dengan lentingan (seperti magnet yang tarik menarik) yang kencang atau pelan. Semakin kencang, berarti kita semakin alergi dengan kategori yang ada di panel itu. Kalau alatnya bergerak naik turun berarti kita aman-aman saja alias enggak alergi.
Saya ga bisa kasih fotonya karena alat ini sangat sensitif. Kilatan dari kamera dikhawatirkan bisa merusak peralatan ini. Eh tapi bisa dilihat kok di webnya bio-E.
Tes alergi Bio E ini cocok buat yang parno dengan jarum suntik seperti saya atau mau cari tau alergi pada anak yang suka nangis kejer lihat jarum suntik. Ga ada rasa sakit tertusuk jarum, atau darah yang menetes. Pokonya painless, dan enggak horor, kan? Sambil dites yang durasinya kurang lebih setengah jam ini saya juga bisa ngobrol santai, kok. Feel free buat nanya-nanya dengan dokter setelah tes, kan charge-nya udah include tes alergi sama tanya-tanya hehehe
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
hsil tesnya
Nah seperti yang ditunjukkan hasil tes, akhirnya saya ketauan alergi apa aja. Ada yang sudah saya duga, saya cuekin dan well.... bikin saya surprise. Hah? Lho? Kok.... Iya deh.
Sudah Diduga
Alergi debu! Iya, saya suka bersin-bersin kalau kena debu, terutama debu kalau lagi beres-beres rumah. Wah biasanya kalau gini saya emang harus cari masker. Oke fine. Alergi debu ini mah ga terlalu ribet, ya. Harus rajin beres-beres dan bersihin rumah dan ruangan. Lagian, siapa juga yang betah di ruangan kotor, lembab atau berdebu? kecuali sebangsa serangga tungau.
Daging ayam? Well, karena kebanyakan ayam ini mendadak montok karena suntikan hormon, saya sih udah curiga. Untungnya saya bukan tipe orang yang sakaw dengan daging ayam dan ga ngoyo kalau makan enggak ada daging ayam. Selain daging ayam, ternyata saya juga alergi daging unggas lainnya seperti daging bebek dan telur. Dokter Melinda yang memeriksa saya ngasih saya catatan, kalau daging ayam kampung sih ga papa,itu masih aman buat saya konsumsi. Nah selain telur yang digoreng atau direbus termasuk di dalamnya makaann camilan yang kebanyakan mengandung bahan telur. Tau deh, seperti apa? Kue dan cake!
Saya juga udah pasrah kalau hasil tes menunjukkan saya terkena alergi MSG. Selain emang ga sehat dan bisa memicu kanker, saya juga suka merasa gatal kalau makan camilan yang terlalu gurih. Selain vetsin yang putih itu, saya juga ga disarankan mencampurkan penyedap seperti R***O, M****O dan sejenisnya. Cukup garam sama gula aaatu pake penyedap organik. Hihihi.. mihil, ya yang ini mah.
Meski ternyata daging sapi enggak apa-apa, dan saya suka minta kalau kuahnya enggak pake vetsin, tapi baksonya kan mostly pake vetsin. Saya emang ga terlalu maniak juga sama bakso. Paling dalam seminggu maksimal 2 kali deh makan bakso.
Enggak Nyangka
Saya enggak nyangka bakal alergi sari rumput. Risikonya, saya ga disarankan berlama-lama di tanah lapang berumput, taman atau yang banyak bunganya. Kecuali rumput sintetis :). Perasaan enggak ada alergi kecuali merasa gatal kalau duduk lama di atas rumput. Tadinya saya kira karena sengatan serangga. Eh ternyata gatal-gatal itu karena alergi, ya? Hey where have I been?:D
Saya juga enggak ny angka alergi cokelat. Padahal suka jadiin cokelat sebagai mood booster. Lucky me, karena ga addict sama cokelat. Jadi nih, kudu dadah-dadah sama cokelat yang diseduh, cokelat batang atau cokelat olahan seperti brownies. Bye, brownies. Jangan merayu saya dengan brownies lagi ya hehehehe... *duh apaan sih*
Tadinya saya kira saya alergi dengan kopi, seperti yang diperkirakan dokter David. Untungnya saya ga addict juga. Tapi bukan berarti saya bisa seenaknya menghabiskan kopi. Maksimal sehari yang masih bisa ditoleransi adalah satu gelas sehari. Kalau mau irit ya dicicil. Pagi 1/3, siang 1/3 dan malam 1/3 *LOL* Eh tapi kalau dalam kaidah food combining, kopi ini masuk kategori rekreasional. Jadi sebaiknya pas jatah waktunya cheating aja, bukan jadi minuman harian. Anyway, i can deal with this stuff,
Pisang! Saya ga ngira alergi pisang. Dokter Melinda kasih saya catatan kalau pisang ini pisang jenis tertentu. Artinya, ada pisang yang kalau dimakan bisa memicu alergi ada yang aman alias enggak apa-apa kalau saya makan.Saya sih mikirnya kalau pas mau test drive alergi saya harus beneran apik, ga makan yang aneh-aneh waktu coba-coba makan pisang jadi biar lebih alert pisang mana yang bikin saya alergi. Apakah pisang cavendish, pisang klutuk yang suka dipake bahan ngerujak, pisang ambon, pisang tanduk atau jenis lainnya. Bisa jadi saya harus dadah-dadah juga dengan pisang molen. Hmmm, oke! Meski enak, saya juga ga sakau sama pisang molen. Ya, woles, lah.
O,ya hampir lupa.Alergi pisang ini termasuk yang langka, lho. Kasus yang terjadi sangat jarang ditemukan (but it happens to me).
Susu sapi! sama seperti kopi, ternyata saya ga alergi sama susu dan produk turunannya. Entah seneng atau woles, nih. Meski sama seperti kopi yang dalam kaidah diet food combining, susu ini termasuk kategori minuman (atau makan produk turunannya seperti keju atau yoghurt) rekreasional. Eh tapi dalam buku food combining yang ditulis oleh Pak Wied Harry Apriadji yoghurt plain ini termasuk protein pengecualian yang aman dikonsumsi, termasuk dicampurkan dengan bahan untuk smoothies, pati atau protein hewan Bingung, ya? Sementara tidak sedikit yang merekomendasikan menggantikan peran yoghurt untuk tekstur creamy pada smoothies dengan pisang. Hmmm.... saya masih harus eksperimen buat dua hal ini. Setidaknya saya masih aman minum susu yang meski saya ga terlalu suka (juga benci).
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
smoothies sirsak + yoghurt plain ala-ala saya.
Daging kambing yang enggak saya sukai ternyata ga bikin saya alergi. Tadinya saya jauhin daging kambing karena saya khawatir memicu kanker (ibu dan nenek saya pernah terkena kanker dan katanya kambing ini pemicu kanker). Dokter Melinda senyum aja, "Tuh buktinya kamu enggak alergi! Lagian belum ada bukti ilmiahnya daging kambing bisa memicu kanker."
Mungkin lain waktu saya bisa cicipin masakan kambing, kayak pas kurban nanti, ya? :D
Saya Cuekin
Saya alergi seafood ternyata, termasuk juga ikan tongkol! Tapi ikan salmon, ikan kakap, tenggiri dan ikan tawar sih ga apa-apa kata dokter. Oke deh, soal sea food saya bisa cuek dan ga ambil pusing. Dadah cumi dan udang, sea food yang kadang-kadang saya nikmati :). Paling kalau satu hari jalan-jalan ke pantai saya harus tahan godaan. Dan reaksi dari pemindai waktu menguji parameter sea food ini ternyata lumayan kencang.
Selain beberapa parameter yang sudah saya sebutkan di atas, saya disarankan juga untuk ga mengonsumsi makaann seperti sate atau ikan yang dibakar. Zat arangnya itu kan mengandung karsiogenik. Kalau bakar-bakaran ikan, daging yang hangusnya harus dipisahkan atau kalau mau aman dipanggang aja pake teflon atau microwace, atau kalau mencicipi semacam steak, jangan yang matang atau meninggalkan jejak arang.Pokoknya jangan, deh. Hayo, yang mau ajak saya barbeque party, atau bakar ikan saya request yang aman buat saya makan, ya.
http://www.catatan-efi.com/2015/08/tes-alergi-bio-e-murah-dan-ga-bikin-parno.html
Tau dong steak mana yang aman? Credit:lipstickalley.com
Alergi pedas yang seperti diperkirakan oleh dokter David sayangnya ga ada parameternya dengan Bio E. Sempat juga saya tanyakan sama dokter Melinda. Kalau yang ini katanya saya harus bawa sampel buat dites. Ga semua makanan pedas bikin alergi. Ada yang alergi sama cengek ijo, tapi aman-aman aja makan cabe merah atau hijau dan paprika atau kombinasi kemungkinan lainnya. Saya sih udah curiga alergi makanan pedas, meski belum tau betul makanan pedas bahan apa yang bikin saya alergi. Soalnya jerawat saya lumayan banyak menghilang setelah puasa makanan yang pedas. Kabar baiknya saya bisa coba test drive dalam waktu khusus dan menemukan makanan pedas apa sih yang aman buat saya. Deuuuh, senang banget ya bisa cicip-cicip makanan pedas lagi hehehe...
O, ya waktu tes alergi, ada panel yang dilewat yaitu daging babi. Dengan jilbab yang saya pake, beliau sih udah yakin saya ga akan makan babi, jadi skip aja.
Banyak ya, saya alerginya? Tapi dibanding yang lainnya, ternyata Cuma 14 item aja yang memicu alergi buat saya (itu pun yang pisang masih opsional, kan?). kecoa yang kalau merayap di kulit bikin geli ternyata saya ga alergi (hiiy, sumpah jijay) atau makanan yang mengandung zat tambahan, pewarna, dan sebagainya ga papa. Tapi ngapain juga saya makan yang gituan, ya?
Selain patuh sama pantangan (doakan semoga saya bisa, ya :) ) jangan lupa juga utnuk banyak-banyak minum air putih eh bening, ya? :) Untuk menjaga kulit biar ga kering dan terkena dehidrasi. Sebenarnya bisa aja kita makan dikiiit aja dari makanan yang pemicu alergi, asal kondisi kita lagi fit dan tingkatan pemicu alerginya ga tinggi. Ya kalau mau bagus hasilnya bisa total 100% berpantang. Sejauh mana saya bisa konsisten dan teguh untuk apik semoga bisa semaksimal mungkin To be honest, pasti banyak godaan yang melambai :)
Well, yang saya tarik hikmah dari hari ini adalah tua itu pasti, sehat itu pilihan, setidaknya kita sudah berusaha.
Masih ada yang mau saya ceritain dari hutang saya sebelumnya, which is tentang autoimun (autoimun bukan soal Sklerosis, vitilgo atau lupus. Diabetes tipe 1 juga termasuk di dalamnya dan entah penyakit apa lagi) yang jadi lingkup cakupan anti aging juga. Jadi, tentang autoimun dan cerita lainnya saya lanjutin setelah membawa hasil tes ini dan menunjukkan hasil tes alerginya sama dokter David aja, ya. Semoga hasil diagnosa dari dokter David engak horor hehehehe... Lagian ini tulisan saya udah panjang bingits ;)
0 Response to "TES ALERGI BIO E MURAH DAN GA BIKIN PARNO"
Posting Komentar