Setiap film yang diadaptasi dari novel (setidaknya ini pengalaman saya sih, entah dengan film lain yang enggak saya tonton) pasti selalu berbeda sudut pandang dengan sutradara. Yang dibayangkan kadang beda dengan gambaran di film. Ekspektasi sebagai pembaca biasanya akan membayangkan kalau novel yang diangkat jadi fim bakal begini, begitu dan seterusnya. Termasuk gambaran figur yang akan memerankan tokoh, setiap pembaca pembaca bayangan idealnya masing-masing. Ssstt, ternyata alur di buku dan versi film beda lho. Untuk versi buku, resensi novel Assalamualaikum Beijing tulisan saya ada di sini.
Review Film Assalamualaikum Beijing
sumber: 21cineplex.com
Ada film yang sukses mewakili harapan pembaca, ada juga yang bikin pembacanya bilang, yaaaaa kok gini.... kok dia? Kenapa bukan si itu? Itu juga yang saya alami waktu Asma Nadia membocorkan casting film Assalamualaikum Beijing. Jujur saya sempat ber yaaaa.... ria
Ok, itu pendapat saya sebelum nonton film. Biasa lah yang namanya pembaca atau calon penonton terlalu banyak berkhayal, kebanyakan ekspektasi dan ternyata ....
Judul Film : Assalamualaikum Beijing
Pemeran : Revalina S Temat, Morgan Oey, Ibnu Jamil. Laudya Cynthia Bella, Desta, Jajang C Noer
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Lokasi Syuting : Beijing, Yunan, Jakarta (ada yang kelewat ga?)
Asma patah hati setelah mendengar pengakuan Dewa yang sudah kebablasan melanggar batas, melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan - sebagai pria dan wanita yang bukan muhrim - dengan Anita. Susah payah Dewa meyakinkan Asma yang dipanggilnya Ra kalau hatinya hanya untuk Ra. Memelas pada Asma agar mengabaikan insiden yang terjadi antara dirinya dengan Anita. Kalau pun sampai Anita hamil, Dewa berkilah anak dalam kandungan Anita belum tentu anaknya Dewa. Alasanya karena mereka baru melakukan sekali. Duh kalau kejadian di alam nyata udah saya bejek-bejek tuh Dewa. Seenak jedat banget, sih? *lelepin dulu tanduk*
Meski sedih, Asma tidak menghiraukan permintaan Dewa. Rencana pernikahan yang sudah di depan mata terpaksa dibatalkan dengan hati berkeping-keping. Tidak lama setelah kejadian itu, Asma terbang ke Cina menerima tawaran pekerjaan sebagai koresponden untuk sebuah media yang berkantor di Beijing. Dalam perjalanan, Asma yang bingung mencari tahu di stasiun mana harus berhenti, tertolong oleh Zhongwen – yang fasih berbahasa inggris - yang duduk di belakangnya. Sementara Sekar, sahabat Asma adalah seorang maniak film korea dan lebaynya minta ampun punya feeling kalau Asma dan Zhongwen bakal berjodoh. Khayalan Sekar yang kemudian menemukan jalannya, meski Ridwan - suami Sekar - sempat mengingatkan mereka agar jangan melupakan soal akidah.
Pertemuan demi pertemuan semakin menumbuhkan benih-benih cinta. Asma yang bercerita indahnya Islam mengatur pergaulan antara lelaki dan perempuan, menolak dengan santun untuk bersalaman dengan Zhongwen. Sementara Zhongwen yang keukeuh memanggil Asma dengan Ashima menceritakan legenda Ashima dan Ahei, berjanji akan mengajak Asma untuk mengunjungi Yunan suatu hari nanti.
Review Film Assalamualaikum Beijing
beberapa adegan dalam film Assalamualaikum Beijing
Rencana mengunjungi Yunan harus tertunda karena ternyata Asma menderita Syndome menderita Antiphospholipid Syndrome (APS)- semacam penyakit pengentalan darah yang berisiko penderitanya mengalami sejumlah penyakit mengerikan seperti stroke, kebutaan dan keguguran bila hamil. Asma yang mulai menyukai Zhongwen harus memupus mimpinya, melupakan lelaki Cina berwajah simpatik itu dan kembali ke Indonesia.
Raport Para Pemain
Revalina S Temat sukses memerankan Asma sebagai seorang gadis cerdas, anggun dan charming. Sementara Laudya Cynthia Bella juga saya acungi jempol memerankan korban film Korea yang terobsesi cerita-cerita romantis. Ibnu Jamil? Oh, pastinya sukses memerankan cowok yang rese hehehe. Nah, kalau Morgan, jujur saya sempat berharap aktor lain yang memerangkan Zhongwen.
Mungkin imej Morgan sebagai personil boy band yang bikin saya cemas aktingnya tidak seperti yang saya bayangkan. Eh ternyataaaa..... Saya salah saudara-saudara. Selain make up yang membuat Morgan terlihat lebih mature, panghayatan perannya juga dapat. 2 Jempol! Morgan sukses memerankan pria Cina yang cerdas, bersahaja dan santun. Memenuhi harapan saya dengan gambaran di novel. Desta (berperan sebagai Ridwan) yang saya bayangkan konyol ternyata juga tidak kalah oke perannya, meski memang dalam film Assakamualaikum Beijing ini dialognya dengan Sekar banyak dengan bumbu-bumbu dialog yang lucu namun tidak berlebihan.
Jajang C Noer memang tidak terlalu banyak menonjol perannya di sini, tapi aktris kawakan yang satu ini bikin saya kesengsem. Sumpah, cantik banget dengan hijabnya, terasa lebih keibuan, apalagi emang di fim itu perannya sebagai mamanya Asma.
Latar/Venue
Pengambilan kamera yang apik, bakal membuat penonton terpesona melihat latar keindahan Great Wall alias Tembok Cina sepanjang kurang 6 lebih km, cantiknya arsitek bangunan masjid Niu Jie, wajah-wajah muslim Cina, keindahan panorama Yunan dan patung Ashima yang legendaris, asiknya menyesap teh tradisional ala Cina plus filosofinya dan keceriaan Asma dan Zhongwen ikut menari tarian rakyat khas China. Hmmm, saya jadi ngiler, berharap bisa jalan-jalan gratisan ke sana. Hihihi.... kalau ngemodal sendiri, kan mihil, ya?
OST Favorit
Di antara sekian OSTnya film Assalamualaikum Beijing, saya paling suka Moving On yang dinyanyikan Ridho Roma. Asli, saya ga ngira lagunya bisa seasik dan sekeren itu. Abisnya saya terlanjur mengidentikan Ridho dengan cengkok dangdutnya yang melow dan syahdu itu (haish). Sekali lagi, maafkeun :)
Novel vs Film
Namanya juga film, terbatas durasi. Pastinya tidak semua bab dalam novel bisa diangkat dalam scene di film. Wajarlah ada improvisasi, memangkas bagian tertentu untuk efisiensi durasi. Begitu juga di film ini. Berbeda dengan versi novelnya, dalam film diceritakan kalau Sekar dan Ridwan tinggal di Beijing dan mencarikan Asma tempat tinggal agar bersebelahan dengan apartemennya atau Dewa yang ujug-ujug muncul di Beijing, mencari Asma. Sayangnya konflik Dewa dengan Anita kurang terlihat detil di sini, konflik Zhongwen dengan keluarga karena memeluk Islam sampai diusir. Padahal ini juga bisa mengaduk-ngaduk emosi penonton lho. Lalu adegan paling romantis dalam novel saat Zhongwen memangku Asma, membawanya ke rumah sakit tidak dimunculkan di sini.
Kesimpulan
Suka dengan cerita yang inspiratif, romantis, lucu, mengharu biru dan edukatif? Wajib nonton film Assalamualaikum Beijing ini.
Sama halnya dengan novel, versi film Assalamualaikum Beijing sukses bikin penonton termehek-mehek (terutama saya sih, karena penonton di sebelah saya masih bisa haha hihi sementara saya sibuk ngelap sudut mata yang udah berembun).
Soal Quote film? Percayalah, anda bakal dibuat sibuk untuk mengingatnya. Yang paling saya ingat nih adalah ketika Zhongwen melamar Asma pada ibunya,
"Tidak perlu fisik yang sempurna untuk cinta yang sempurna.”
Yup, yang sudah baca novelnya pasti tahu dong kalau Zhongwen tidak peduli dengan kelemahan fisik yang dialami Asma karena penyakit. Justru Zhongwen berterimakasih karena Asma telah menuntunnnya menemukan hidayah. Nah cowok macam Zhongwen inilah yang perlu dilestarikan, langka, sih. #eeeh?
0 Response to "REVIEW FILM ASSALAMUALAIKUM BEIJING"
Posting Komentar